Morallampung - Nilai impor Provinsi Lampung pada Januari hingga Maret 2026 tercatat sebesar 316,86 juta dolar AS.
Angka tersebut mengalami penurunan sekitar 54 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025.
Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Lampung, Mohammad Zimmi Skil mengatakan, kondisi impor Lampung dalam beberapa tahun terakhir bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menurun.
Menurutnya, sejumlah komoditas masih mendominasi impor di Lampung, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan bahan baku industri dan pangan.
“Komoditas utama impor Provinsi Lampung adalah migas, gula kasar, sapi bakalan, pakan ternak, kedelai, mesin, beras, dan pupuk,” kata Zimmi.
Ia menjelaskan, komoditas impor tersebut sebagian besar berasal dari Nigeria, Amerika Serikat, Tiongkok, negara-negara ASEAN, dan Australia.
Menurut Zimmi, impor dari negara-negara tersebut umumnya berupa bahan baku maupun bahan penolong yang dibutuhkan pelaku industri hingga UMKM di Lampung.
“Komponen impor tersebut memang sangat dibutuhkan dan merupakan bagian utama proses produksi bagi pelaku UMKM, seperti kedelai, pupuk, migas, plastik, sapi, dan gula,” ujarnya.
Dari bahan baku impor tersebut, berkembang pula sejumlah produk hilirisasi di Lampung, mulai dari tempe, tahu, kecap, produk olahan daging sapi, hingga aneka pangan olahan lainnya.
Ia menilai keberadaan bahan baku impor masih memberi kontribusi terhadap aktivitas industri pengolahan dan perdagangan di Lampung.
Meski demikian, Pemerintah Provinsi Lampung terus melakukan berbagai strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor sekaligus mendorong penggunaan produk lokal.
Salah satunya melalui pemetaan rantai pasok daerah guna mencari potensi komoditas lokal yang bisa dikembangkan sebagai bahan pengganti impor.
Selain itu, pemerintah juga mendorong kemitraan antara produsen bahan baku lokal dengan industri besar dan menengah agar pasokan bahan baku lebih terjamin.
“Pemerintah juga memberikan kemudahan dan percepatan perizinan bagi investor yang ingin membangun pabrik pengolahan bahan baku lokal di daerah,” jelasnya.
Tak hanya itu, Pemprov Lampung juga menjalankan program hibah bantuan mesin pengering atau bed dryer bagi petani guna mendukung program swasembada pangan.
Di sisi lain, Zimmi mengungkapkan terdapat beberapa komoditas impor yang mengalami kenaikan signifikan belakangan ini, terutama minyak mentah dan plastik.
Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi faktor geopolitik global, termasuk konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang berdampak pada distribusi migas dunia.
“Perang tersebut mengganggu alur distribusi sehingga meningkatkan harga komoditas migas, khususnya minyak mentah. Produk turunan minyak mentah juga menjadi bahan utama pembuatan plastik,” ungkapnya.
Selain faktor geopolitik, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga turut mempengaruhi kenaikan harga barang impor.
“Biaya mendatangkan barang impor menjadi lebih mahal sehingga harga barang impor ikut meningkat,” pungkasnya. (*)

