• Jelajahi

    Copyright © moral lampung
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Hasan Abdullah Sahal, Kiai Penuh Isi di Telinga Presiden

    Redaksi
    Last Updated 2026-09-22T04:51:27Z

     

    KH. Hasan Abdullah Sahal berbincang dengan Presiden Prabowo Subianto saat Peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur.

    Morallampung - KH Hasan Abdullah Sahal menjadi perbincangan publik setelah pidatonya di hadapan Presiden Republik Indonesia dalam peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor pada Sabtu (19/9/2026) viral di media sosial.


    Pidato Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor tersebut menarik perhatian luas karena dinilai sebagai kritik halus.


    Salah satu momen yang paling banyak disorot adalah saat KH Hasan Abdullah Sahal mengekspresikan kesiapannya untuk dikritik maupun didemo secara terbuka.


    "Saya ingin menyampaikan kepada Bapak Presiden, boleh disaksikan. Kalau makan saya, pakaian saya, kendaraan saya, rumah saya, apa lagi, melebihi makanan santri, pakaian santri, kendaraan santri, rumah santri, protes boleh," katanya.


    Di balik nada canda yang dibawakannya, Kiai Hasan secara mendalam menyinggung persoalan integritas, gaya hidup para pejabat, ambisi kekuasaan, hingga pentingnya keteladanan seorang pimpinan.


    Menurut pandangan Kiai Hasan, figur seorang pimpinan tidak sewajarnya cuma pandai memberikan nasihat atau ceramah kepada orang lain.


    Sikap beserta pola kehidupan seorang pimpinan sepatutnya turut mencerminkan nilai-nilai moral yang diajarkan kepada para santri.


    Melalui pidato tersebut, beliau turut menyoroti fenomena masyarakat yang terlampau berambisi mengejar gelar kebangsawanan, jabatan struktural, harta kekayaan, hingga popularitas semata.


    Penggunaan frasa seperti "cari muka" menjadi salah satu sarana kritik yang diutarakannya terhadap perilaku hedonis dan berorientasi pada pengakuan pribadi.


    Meski disampaikan lewat gaya penyampaian yang jenaka, pesan utama pidato tersebut menekankan pentingnya menjaga integritas serta tidak menjadikan materi, jabatan, dan popularitas sebagai muara utama kehidupan.


    Kiai Hasan dalam kesempatan itu juga menegaskan prinsip independensi lembaga pesantren yang harus terus dijaga.


    Baginya, pesantren bukan sekadar wadah untuk mentransfer ilmu agama, melainkan sarana pembentukan karakter dan pencetak generasi yang memegang teguh prinsip hidup.





    Hasan Abdullah Sahal merupakan salah satu pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Ponorogo, Jawa Timur. Lahir di Desa Gontor pada 24 Mei 1947, ia merupakan putra keenam dari K.H. Ahmad Sahal, salah satu dari tiga Trimurti pendiri PMDG bersama K.H. Zainuddin Fananie dan K.H. Imam Zarkasyi.


    Semasa hidupnya Hasan menempuh pendidikan dasar di Gontor dan lulus pada 1959. Tiga bulan sebelum menuntaskan sekolah dasar, ia telah diterima sebagai santri Kulliyyatu-l-Mu'allimin Al-Islamiyyah (KMI) Pondok Modern Gontor. Usai menamatkan KMI pada 1965, ia melanjutkan studi di Fakultas Ushuluddin Institut Pendidikan Darussalam (IPD) sembari mengajar di KMI selama kurang lebih dua setengah tahun.


    Pada 1967, Hasan mendapat kesempatan melanjutkan studi ke Fakultas Dakwah dan Ushuluddin Universitas Islam Madinah Al-Munawwarah, Arab Saudi. Ia kemudian memperdalam bidang spesialisasi hadis di Universitas Al-Azhar, Mesir, pada 1992.


    Hasan Abdullah Sahal mulai mengemban amanah sebagai Pimpinan PMDG sejak 1985. Kala itu, ia memimpin bersama K.H. Shoiman Luqmanul Hakim dan K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A. Hingga saat ini, ia mengasuh Gontor bersama Prof. Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi dan Drs. K.H. Muhammad Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed.


    Selain memimpin pesantren, Hasan mengabdi sebagai dosen di Institut Studi Islam Darussalam yang saat ini menjadi Universitas Darussalam (UNIDA) sejak 1977. Ia juga mendirikan Pondok Pesantren Putri Al-Mawaddah di Coper, Jetis, Ponorogo pada 1989, serta mendirikan sekaligus mengasuh Pondok Tahfidz Qur'an Al-Muqoddasah di Nglumpang, Mlarak, pada 1992.


    Kiprah Hasan turut terentang hingga ke mancanegara. Ia aktif mengikuti kegiatan dakwah dan kunjungan ilmiah di berbagai negara, seperti Malaysia, Hong Kong, Korea Selatan, Jepang, Singapura, Brunei Darussalam, Australia, hingga kawasan Timur Tengah dan Eropa.


    Di sela-sela aktivitasnya, Hasan aktif melahirkan sejumlah karya tulis yang dipublikasikan dalam profil resmi Gontor.


    Beberapa karya terbitannya antara lain Membina Keluarga Muslim, Pegangan Para Qori', Obsesi Hasan Abdullah Sahal, Ceramah-ceramah Kontemporer, serta seri Allamatnil Hayah (Kehidupan Mengajariku I, II, dan III).


    Melalui perjalanan panjang pendidikan, dakwah, dan karya tersebut, K.H. Hasan Abdullah Sahal terus mengukuhkan perannya dalam membimbing perjalanan PMDG hingga saat ini. (*)

    Komentar

    Tampilkan

    • Hasan Abdullah Sahal, Kiai Penuh Isi di Telinga Presiden

    Terkini