• Jelajahi

    Copyright © moral lampung
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Taman Nasional Way Kambas Membara, Kita Semua Jangan Tutup Mata!

    Redaksi
    Last Updated 2026-08-24T19:11:30Z




    Morallampung - Kebakaran yang kembali melanda kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, mendapat perhatian DPRD Provinsi Lampung.


    DPRD menilai kebakaran di kawasan konservasi tidak cukup hanya ditangani setelah api muncul. Penguatan pencegahan, patroli, kesiapan personel, hingga sarana pemadaman dinilai perlu dilakukan secara lebih intensif, terutama saat memasuki musim kemarau.


    Ketua Komisi I DPRD Provinsi Lampung, Garinca Reza Pahlevi, yang merupakan anggota DPRD dari daerah pemilihan Lampung Timur, mendorong pemerintah provinsi, Pemkab Lampung Timur, Balai TNWK, BPBD, TNI-Polri, petugas kehutanan, serta masyarakat memperkuat koordinasi dalam mencegah kebakaran.


    Menurut Garinca, kondisi kemarau membuat vegetasi di kawasan hutan lebih mudah terbakar sehingga pengawasan terhadap titik-titik rawan harus ditingkatkan.


    "Kalaupun misalnya itu persoalan alam atau persoalan iklim, kita bersama-sama semua stakeholder, pemerintah provinsi maupun pemerintah Kabupaten Lampung Timur, bersama-sama dengan seluruh stakeholder aparat penegak hukum baik itu polisi, TNI, kalaupun misalnya ada titik-titik merah api bisa segera dipadamkan," kata Garinca dalam wawancara, Senin (24/8/2026).


    Ia meminta setiap indikasi munculnya titik api segera ditindaklanjuti. Menurutnya, keterlambatan penanganan dapat membuat api cepat meluas karena kondisi hutan yang kering.


    Selain aspek pencegahan, Garinca juga menyoroti dugaan adanya unsur kesengajaan dalam kebakaran di kawasan TNWK.


    Sebelumnya, Balai TNWK menyampaikan dugaan kebakaran terbaru terjadi akibat kesengajaan. Namun, dugaan tersebut tetap perlu dibuktikan melalui penyelidikan dan proses hukum oleh aparat berwenang.


    Garinca menegaskan, apabila hasil penyelidikan menemukan adanya pihak yang sengaja membakar kawasan hutan, penegakan hukum harus dilakukan secara tegas.


    "Terkait dengan ada indikasi misalnya baik itu sengaja maupun tidak sengaja sumber pembakaran hutan ataupun Taman Nasional Way Kambas, kalau memang indikasinya ada temuan-temuan di lapangan yang memang ada oknum-oknum yang berusaha ataupun sengaja membakar, ya harus segera penegak-penegak hukum untuk bisa menindak tegas," ujarnya.


    Menurut dia, penindakan bukan hanya penting untuk memberikan keadilan, tetapi juga menjadi langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terus berulang.


    Garinca mendorong Balai TNWK meningkatkan patroli, khususnya di wilayah yang memiliki potensi kebakaran tinggi selama musim kemarau.


    Patroli dinilai penting untuk mendeteksi lebih awal apabila terdapat aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran maupun ketika ditemukan titik api.


    "Kalaupun misalnya itu ada indikasi bakal kebakar, ya itu bisa antisipasi, Taman Nasional Way Kambas-nya meningkatkan patroli dan sebagainya ataupun siapkan cepat pemadam kebakaran sebanyak-banyaknya," katanya.


    Ia juga meminta kesiapan sarana dan personel pemadaman diperkuat sehingga ketika titik api ditemukan, petugas dapat segera bergerak sebelum api menjalar ke kawasan yang lebih luas.


    Menurutnya, kecepatan menjadi faktor penting dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan karena api dapat dengan cepat menyebar melalui vegetasi yang kering.


    Upaya pencegahan, lanjut Garinca, juga harus melibatkan masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar kawasan TNWK.


    Petugas kehutanan dan polisi hutan diminta meningkatkan sosialisasi mengenai bahaya penggunaan api selama musim kemarau.


    "Ketika di musim kemarau ini pemerintah, dalam hal ini TNWK-nya atau polisi hutannya juga untuk bisa mengimbau masyarakat untuk tidak, ataupun kalau misalnya beraktivitas di kawasan hutan itu menghindari adanya titik-titik api," katanya.


    Ia mengingatkan masyarakat agar tidak meninggalkan sumber api maupun membuang benda yang masih berpotensi menimbulkan percikan.


    "Kalau misalnya merokok atau pun misalnya ini benar-benar sudah dimatikan dulu secara teknis, dimatikan benar, jangan sampai puntungnya itu dilempar. Itu kan mudah ditiup angin, percik api, segala macam," ujarnya.


    Garinca mengatakan kondisi vegetasi yang kering ditambah minimnya hujan membuat api lebih mudah membesar dan menyebar.


    "Kalau sudah namanya hutan kering, segala macam itu cepat, ditambah cuaca enggak ada hujan," imbuhnya.





    Garinca menilai kebakaran TNWK tidak boleh hanya dilihat dari luas kawasan hutan yang terbakar.


    Menurutnya, dampak terhadap ekosistem dan satwa liar justru menjadi persoalan yang harus mendapat perhatian serius. TNWK merupakan salah satu kawasan konservasi penting bagi berbagai satwa dilindungi.


    "Yang jadi persoalan di TNWK ini kan bukan cuma sekadar hutannya terbakar, tapi yang paling penting itu kan gajahnya itu, ekosistemnya yang terganggu," kata dia.


    Ia menyebut keberadaan gajah, badak, rusa hingga harimau Sumatera menjadi alasan kuat agar kebakaran tidak sampai merusak habitat dan mengganggu populasi satwa di dalam kawasan konservasi.


    "Ada gajah, ada badak, ada rusa, ada harimau kan, ada Harimau Sumatera," ujarnya.


    Karena itu, ia berharap penanganan kebakaran dilakukan secepat mungkin agar api tidak merambah wilayah yang menjadi habitat satwa.


    "Kita berharap cepat konservasinya, yang khususnya untuk gajah, badak, harimau itu enggak kena lah, enggak terganggu," katanya.


    Garinca juga mengingatkan agar kebakaran tidak mengganggu upaya pemerintah dalam mengembangkan potensi ekonomi dari kawasan hutan, termasuk melalui perdagangan karbon.


    Ia menyinggung pembangunan pagar pembatas kawasan yang disebut berkaitan dengan program pemerintah pusat serta upaya pengelolaan kawasan hutan dan karbon agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.


    Menurut Garinca, kebakaran yang tidak dicegah sejak awal berpotensi menghambat berbagai rencana tersebut.


    "Karena kalau ini tidak diantisipasi sejak awal atau enggak bisa dicegah, itu bakalan terhambat," katanya.


    Ia menggambarkan kondisi tersebut sebagai sebuah kontradiksi ketika kawasan yang seharusnya mampu memberikan manfaat melalui pengelolaan karbon justru mengalami kebakaran.


    "Kayak pembangunan apa, pembangunan perdagangan karbon itu dia seharusnya bisa menjual karbon, malah dia menghasilkan karbon dari kebakaran," ujarnya.


    "Karbon, bukannya ini bukannya O2 malah CO2. Niatnya mau menjual hasil oksigen, ini malah dia menghasilkan karbondioksida," lanjutnya.


    Bagi Garinca, pencegahan kebakaran harus ditempatkan sebagai bagian penting dalam menjaga fungsi konservasi TNWK sekaligus melindungi ekosistem dan memastikan potensi manfaat ekonomi dari pengelolaan kawasan hutan tidak terganggu.


    Ia berharap seluruh pihak tidak hanya bergerak ketika kebakaran sudah terjadi, tetapi memperkuat sistem pencegahan, patroli, deteksi dini, edukasi masyarakat, serta kesiapan pemadaman sepanjang periode rawan kebakaran.


    Dengan langkah tersebut, kebakaran di TNWK diharapkan tidak kembali berulang dan mengancam kawasan konservasi maupun satwa yang hidup di dalamnya.(*)

    Komentar

    Tampilkan

    • Taman Nasional Way Kambas Membara, Kita Semua Jangan Tutup Mata!

    Terkini