Morallampung - Matahari pagi merangkak pelan di langit Lampung, seolah ragu menyinari hari yang seharusnya penuh harapan.
Di tanggal 1 Mei 2026, saat para buruh di berbagai penjuru dunia menyuarakan hak dan martabat, seorang “buruh tinta” justru tenggelam dalam ketakutan.
Wildan Hanafi, jurnalis media online, duduk terpaku. Tatapannya kosong. Jemarinya gemetar saat sesekali menggenggam ponsel. Wajahnya pucat, suaranya nyaris hilang.
“Saya harus ke psikolog, pusing. Mau keluar takut ada yang mengintai,” ucapnya lirih, pada, Jumat (1/5/2026) pagi.
Disekelilingnya tak ada spanduk, tak ada pengeras suara, tak ada kerumunan massa. Hanya ada rasa khawatir yang diam-diam menggerogoti keberaniannya sebagai wartawan.
Padahal hari itu, ia ingin ikut bersuara. Berdiri bersama mereka yang memperjuangkan keadilan. Namun ancaman yang ia terima justru membungkam langkahnya.
Setiap notifikasi di ponselnya terasa seperti ancaman baru. Nomor tak dikenal menjadi bayangan yang menakutkan.
Tak banyak yang bisa ia lakukan.
Hanya satu pesan singkat yang ia kirimkan ke rekan-rekannya: “Mohon doa ya.”
Kalimat sederhana, tapi menyimpan ketakutan yang tak bisa ia sembunyikan.
Empat hari sebelumnya, tepatnya Selasa, 28 April 2026, semuanya berubah.
Sebuah percakapan telepon yang awalnya biasa, mendadak menjadi mimpi buruk.
Dalam sambungan itu, seorang oknum pejabat publik Pemprov Lampung meluapkan emosinya.
Awalnya hanya keluhan. Lalu berubah menjadi nada tinggi. Dan akhirnya menjadi ancaman.
Nama Wildan disebut, diiringi kata-kata yang membuat bulu kuduk meremang.
“Malam ini gua cari dia, biar dia tahu," Suara lantang yang sempat terekam oleh rekan Wildan seorang wartawan lainnya.
Kalimat itu kini terus terngiang di kepalanya.
Sejak saat itu, dunia terasa berbeda.
Ruang publik yang dulu ia masuki dengan percaya diri kini terasa sempit. Jalanan yang biasa ia lewati terasa asing. Bahkan keluar rumah menjadi keputusan yang harus dipikirkan berkali-kali.
Namun di tengah ketakutan itu, ia tidak sepenuhnya diam.
Diantara takut dan harapan, ia memilih melapor.
Wildan akhirnya memutuskan mencari perlindungan.
Didampingi tim kuasa hukum dari MY Law Office, dan puluhan rekan pers lainnya mendatangi Polresta Bandar Lampung, Kamis, 30 April 2026.
Bukan untuk mencari sensasi.
Tapi untuk mencari perlindungan, pagi itu, laporan resmi didaftarkan.
Dalam dokumen tersebut, laporan tercatat dengan nomor STTLP/B/700/IV/2026/SPKT/Polresta Bandar Lampung/Polda Lampung yang diterima pukul 10.32 WIB.
Di balik proses administratif itu, ada pergulatan batin yang tak sederhana.
Setiap tanda tangan yang ia bubuhkan seolah menjadi pertaruhan antara rasa takut dan keberanian.
Muhamad Yunandar, kuasa hukum Wildan, mengatakan laporan tersebut merupakan bentuk penegakan hukum atas dugaan pengancaman yang dilakukan oleh oknum pejabat.
“Kemarin kami membuat laporan terkait dugaan tindak pidana pengancaman,” ujarnya.
Namun bagi Wildan, ini bukan sekadar laporan hukum. Ini adalah upaya untuk tetap berdiri.
Meski dengan lutut yang gemetar.
Kuasa hukum menyebut, tekanan yang dialami Wildan bukan hal kecil.
Ia mengalami gangguan psikologis yang memengaruhi aktivitasnya sebagai jurnalis.
Rasa aman yang dulu ia miliki, kini perlahan hilang. Dan menulis, yang dulu menjadi panggilan jiwa, kini terasa seperti risiko.
Ketika menulis menjadi sesuatu yang menakutkan.
Di negeri yang telah merdeka puluhan tahun, kebebasan ternyata belum sepenuhnya dirasakan oleh semua.
Terutama bagi mereka yang bekerja menyampaikan kebenaran.
Undang-undang memang menjamin kebebasan pers. Namun kenyataan di lapangan, tak selalu sejalan dengan teks hukum.
Ancaman, intimidasi, bahkan tekanan, masih menjadi bayang-bayang bagi sebagian jurnalis.
Wildan kini merasakannya. Hari Buruh yang seharusnya menjadi simbol perjuangan, justru ia lewati dalam diam. Tanpa orasi. Tanpa langkah. Hanya dengan doa. Dan harapan sederhana.
Agar suatu hari nanti, ia bisa kembali menulis tanpa rasa takut.
Karena bagi seorang buruh tinta, menulis bukan sekadar pekerjaan.
Tapi cara untuk tetap hidup. Dan hari ini, ia masih bertahan. Meski dalam sunyi.(**")

