Morallampung - Di bawah tenda sederhana yang berdiri di depan gerbang pabrik di Desa Tarahan, Andi bukan nama sebenarnya menatap kosong ke arah bangunan yang dulu menjadi sumber penghidupan keluarganya.
Di tangannya, ada secarik kertas berisi catatan utang. Sementara di rumah, anaknya terus menanyakan kapan ayahnya kembali bekerja.
Kisah itu bukan hanya milik satu orang. Sekitar 180 pekerja PT Sanxiong Steel Indonesia kini menghadapi kenyataan pahit, sudah hampir satu tahun mereka tidak menerima gaji.
Memasuki Maret 2026, harapan yang tersisa justru semakin menipis, apalagi Hari Raya Idul Fitri tinggal menghitung hari.
Ketua serikat buruh perusahaan, Hadi Sholihin, dalam keterannya mengatakan gaji karyawan sudah tidak dibayarkan selama 10 bulan terakhir dan kini telah masuk bulan ke-11.
Yang paling menyakitkan bagi para buruh bukan hanya soal uang, tetapi ketidakpastian yang terus menggantung.
“Banyak teman-teman sudah tidak punya apa-apa lagi. Ada yang terpaksa meminjam uang untuk beli beras, ada yang tidak bisa bayar sekolah anaknya. Kami hanya ingin gaji kami dibayar,” ujarnya, Kamis (19/3/2026).
Sejak pabrik berhenti beroperasi pada Maret 2025, para buruh masih diminta datang dan melakukan absensi setiap hari selama berbulan-bulan.
Mereka tetap datang dengan harapan pabrik kembali berjalan dan gaji yang tertunggak akan dibayarkan.
Namun harapan itu justru berakhir dengan kekecewaan, karena akses absensi tiba-tiba ditutup tanpa penjelasan.
Kini, yang tersisa hanya tenda darurat di depan pabrik. Di sana, para buruh berkumpul setiap hari, berbagi cerita tentang kondisi keluarga masing-masing.
Ada yang mengaku sudah menjual barang di rumah, ada pula yang hanya bisa menahan rasa malu saat anak meminta uang jajan.
Yang membuat luka itu semakin terasa adalah suasana menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah.
Biasanya, momen Lebaran menjadi waktu bagi para buruh untuk pulang dengan membawa kebahagiaan bagi keluarga.
Namun tahun ini, sebagian dari mereka bahkan tidak tahu apakah bisa membeli beras untuk hari raya.
Menurut Hadi Sholihin, para buruh tidak menuntut hal berlebihan. Mereka hanya ingin hak mereka dibayarkan setelah bekerja selama bertahun-tahun.
Ia juga berharap pemerintah daerah di Lampung Selatan segera turun tangan agar nasib para buruh tidak semakin terpuruk.
Di tengah panas dan debu di depan gerbang pabrik, para buruh itu masih bertahan.
Mereka bukan hanya menunggu gaji, tetapi juga menunggu harapan yang belum juga datang. Satu hal yang pasti, bagi 180 buruh ini, Lebaran tahun ini terasa jauh lebih berat dari sebelumnya. (rio)

