Lampungselatan – Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama menginstruksikan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) untuk segera membentuk Desa Tangguh Tuberkulosis (TBC).
Itu disampaikan secara eksplisit saat Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) di Kecamatan Kalianda. Instruksi itu tampak mendesak, sebab capaian kasus TBC di Lampung Selatan merosot dari tahun sebelumnya.
Merujuk data dari Dinas Kesehatan Provinsi Lampung jumlah kasus TBC di Kabupaten ini sebanyak 2.386 kasus. Data itu menggambarkan rendahnya capaian yang diraih Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan.
Idealnya, jumlah capaian kasus TBC bisa menyentuh di angka 3.000 kasus. Oleh sebab itu Bupati Egi memberi perintah langsung kepada Kepala Dinas PMD Erdiyansyah untuk membereskan persoalan tersebut dengan koordinasi lintas sektoral sesuai Peraturan Menteri Desa (Permendes) no 16 tahun 2005.
"Segera cari desa yang tangguh menggunakan analisis swot," kata Bupati Egi, Kamis (12/2/2026).
Sementara Kepala Dinas PMD Lamsel Erdiyansyah sudah menyiapkan lima desa di Lampung Selatan untuk menjadi Desa Tangguh TBC sesuai aturan Permendes.
" Kami siapkan lima desa, sesuai arahan pak bupati program ini harus ditindaklanjuti agar capaiannya meningkat dan berhasil. Kami akan koordinasi dengan Dinkes Lamsel mengenai tindaklanjutnya," kata Erdiyansyah.
Sementara itu, Inisiatif Lampung Segat (ILS) organisasi yang konsen menangangi TBC di Lampung menilai pembentukan Desa Tangguh TBC sebagai upaya untuk menekan laju penyebaran TBC yang secara nasional angkanya kian mengkhawatirkan.
"Deteksi dan penanganan sejak dini sangat penting agar kualitas hidup keluarga, khususnya anak dan pencari nafkah, tidak terganggu," kata Ketua ILS Rudi Hartono, M.M.
Rudi bilang, jika anak terdeteksi sejak dini, tumbuh kembangnya bisa lebih baik. Dengan kata lain kalau yang terinfeksi adalah seorang bapak, maka pekerjaannya juga akan terganggu. Ini persoalan sosial dan ekonomi, apalagi dalam budaya patriarki.
Rudi menjelaskan bahwa ILS tidak hanya fokus pada isu TBC, tetapi juga memiliki program (Recycle Sakai Sambayan) dan aksi peduli lingkungan. Ia menilai kader-kader ibu rumah tangga memiliki kepekaan tinggi dalam menjalankan program kesehatan dan lingkungan di tingkat desa.
“ILS bekerja lintas agama, lintas suku, lintas golongan. Kami bukan LSM, tapi bekerja secara teknis dan resmi, saling mendukung dan memfasilitasi dari sisi tenaga, pikiran, tempat, dan pengkondisian seperti hari ini,” jelasnya.
Perlu diketahui bahwa dari sekitar 31 ribu kasus TBC di Provinsi Lampung, jumlah kasus di setiap kecamatan berpotensi signifikan jika dihitung secara proporsional.
Kabar baiknya, kelak kehadiran Desa Tangguh TBC dapat memudahkan masyarakat dalam mengakses layanan kesehatan melalui kerja sama kader-kader ILS di tingkat desa.
Upaya pembentukan Desa Tangguh TBC ini menjadi bukti kolaborasi nyata antara masyarakat, pemerintah, dan lembaga sosial dalam membangun kesadaran serta ketangguhan bersama melawan TBC dari tingkat paling dasar. (*)


